Kisah Dr. Qory: Jejak Digital, KDRT, dan Manipulasi Emosional di Era Medsos

oleh -25 Dilihat
oleh
banner 468x60
Dr. Qory(kedua dari kiri)di Polres Bogor

Jakarta – Kabar menghebohkan tentang kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menimpa dr. Qory dan suaminya, Willy Sulistio, menjadi sorotan tajam di jagat maya. Dr. Qory sendiri membuat gebrakan dengan melarikan diri dari rumah dan mengungkapkan kasus KDRT yang dialaminya. Perhatian netizen semakin terfokus ketika muncul video percakapan di YouTube antara dr. Qory dan Willy, khususnya saat membahas menstruasi.

Video tersebut mencuatkan kontroversi karena dinilai banyak netizen sebagai bentuk merendahkan dari Willy terhadap dr. Qory. Pertanyaan yang dilontarkan Willy terkesan samar, bahkan dianggap melecehkan, memberikan kesan bahwa lawan bicaranya dianggap ‘kurang pintar’.

banner 336x280

Psikolog klinis, Anastasia Sari Dewi, memberikan pandangan terkait perilaku manipulatif yang seringkali merajai hubungan beracara. Menurutnya, pelaku manipulasi memiliki keahlian untuk membolak-balikkan fakta atau situasi yang terjadi. Mereka mampu merasionalisasi kesalahan yang mereka buat, sehingga kesan yang muncul adalah lawan bicaranya yang bersalah.

“Korban manipulasi dibuat merasa bersalah atau diberikan pemahaman rasionalisasi yang membuat pelaku berhak marah, kecewa, atau bahkan melakukan tindakan kekerasan. Situasi dibalikkan sedemikian rupa hingga korban yang semula menjadi pelaku, dan ini bisa sangat membingungkan,” ungkap Sari.

Seringkali, manipulasi dilakukan dengan kelembutan, tanpa nada keras atau bentakan. Tujuannya adalah membuat korban merasa bersalah dan meragukan dirinya sendiri. “Pelaku bisa menciptakan kebingungan dengan menyalahkan korban atau bahkan menuduh korban memiliki gangguan jiwa. Semua ini dilakukan untuk membuat korban ragu terhadap penilaian dirinya sendiri,” tambahnya.

Kisah dr. Qory mencuatkan tantangan baru di era media sosial, di mana jejak digital menjadi saksi bisu hubungan rumah tangga yang rumit. Kasus ini membangkitkan kesadaran akan pentingnya mendeteksi tanda-tanda manipulasi emosional dalam hubungan, serta menunjukkan bahwa media sosial juga dapat menjadi alat pembebasan dan keadilan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.