Varian Eris EG.5 Picu Lonjakan Kasus COVID-19 di Indonesia: Apa yang Harus Diwaspadai?

oleh -3 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta – Gelombang kenaikan kasus COVID-19 kembali melanda Indonesia bersamaan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Ancaman kali ini disebabkan oleh varian Eris EG.5, yang telah menjadi perhatian global. Pertanyaan yang muncul adalah seberapa cepat dan seberapa besar varian Corona ini dapat menyebar?

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan spesialis paru RS Persahabatan, dr. Erlina Burhan, SpP(K), menjelaskan bahwa kasus COVID-19 di Indonesia meningkat hingga dua kali lipat selama Oktober hingga November tahun ini. Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan peningkatan sebanyak 80 persen dalam periode 28 November hingga 2 Desember 2023.

banner 336x280

Varian EG.5, yang merupakan cabang dari Omicron dan turunan dari sublineage XBB, kini menjadi jenis COVID-19 dominan di seluruh dunia. EG.5 merupakan turunan dari XBB.1.9.2, dengan mutasi ekstra pada protein spike.

Dr. Andrew Pekosz, ahli virologi di Universitas Johns Hopkins, menjelaskan, “Jika kita melihat urutannya, EG.5 sangat mirip dengan varian XBB lain yang beredar saat ini, dengan beberapa perubahan kecil.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan EG.5 ke dalam daftar varian yang dipantau pada 19 Juli 2023, sementara varian ini pertama kali terdeteksi pada Februari 2023. Pada 9 Agustus, WHO mengklasifikasikan EG.5 sebagai ‘Variant of Interest’.

Karakteristik varian EG.5 juga menjadi sorotan:

1. Gejala Tak Lebih Berat Dibanding Varian Lainnya

   Dr. Erlina menjelaskan bahwa gejala COVID-19 dari varian EG.5 mirip dengan varian Corona sebelumnya. Namun, orang yang terkena varian ini mungkin mengalami penurunan titer antibodi, menyebabkan tingkat proteksi vaksin COVID-19 menurun dalam beberapa bulan setelah suntikan terakhir.

2. Potensi Menular Lebih Cepat

   Varian EG.5 mirip dengan varian Omicron sebelumnya dan dianggap memiliki potensi penularan yang relatif tinggi. Dr. Albert Ko, dokter penyakit menular dan profesor di Yale School of Public Health, menyebut ada kemungkinan EG.5 lebih mudah menular dibandingkan varian XBB lainnya.

3. Sudah Ada di Indonesia Sejak Juli

   Menurut dr. Erlina, varian EG.5 sudah ada di Indonesia sejak Juli, meskipun baru sekarang terjadi peningkatan kasus. Faktor penyebabnya kemungkinan melibatkan penurunan antibodi di masyarakat, tingginya mobilitas, dan interaksi tatap muka.

Situasi ini memberikan peringatan penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan mentaati protokol kesehatan demi mengendalikan penyebaran varian EG.5. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik varian ini, diharapkan langkah-langkah pencegahan dapat ditingkatkan untuk melindungi masyarakat dari dampak yang lebih serius.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.