Rebound Harga Batu Bara dan Kemenangan Minyak Sawit: Tren Menarik di Pasar Komoditas

oleh -0 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta – Pasar komoditas menyajikan kisah menarik pekan ini, dengan harga batu bara mengalami rebound setelah dua hari melemah berturut-turut. Sementara itu, minyak kelapa sawit (CPO) meraih kemenangan dengan penguatan selama tujuh hari berturut-turut.

Menurut data Bloomberg dari penutupan perdagangan pekan lalu (12/1/2024), harga batu bara berjangka kontrak Januari 2024 di ICE Newcastle mengalami kenaikan sebesar 0,08%, atau 0,10 poin, mencapai posisi US$130.85 per metrik ton. Namun, dalam sepekan, kontrak tersebut mengalami pelemahan sebesar -0,53%. Sementara itu, kontrak pengiriman Februari 2024 mengalami kenaikan sebesar 0,79%, atau 1 poin, menuju level US$127,25 per metrik ton.

banner 336x280

Pentingnya dicatat, impor batu bara oleh China mencapai rekor tertinggi pada bulan Desember 2023, dengan lonjakan sebesar 61,8% dibandingkan tahun sebelumnya. China mengimpor 47,3 metrik ton batubara pada bulan tersebut, mengalami peningkatan sebesar 9,7% dari bulan sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan oleh akumulasi persediaan menjelang liburan Tahun Baru Imlek yang dimulai pada 10 Februari 2024, dan permintaan yang meningkat akibat suhu dingin yang memecahkan rekor di banyak wilayah China.

Pemerintah China sendiri, pada Desember 2023, kembali menerapkan tarif impor batu bara sebesar 3%-6% untuk negara-negara yang tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas bilateral. Meski demikian, para pedagang optimis bahwa tarif tersebut tidak akan menghapus keunggulan harga batu bara impor, sehingga impor pada 2024 diperkirakan akan kembali meningkat.

Sementara itu, di pasar minyak kelapa sawit, harga (CPO) di bursa derivatif Malaysia pada Februari 2024 mengalami kenaikan sebesar 57 poin, mencapai 3,831 ringgit per metrik ton. Dalam sepekan, kontrak ini menguat sekitar 4,24%. Kontrak Maret 2024 juga mengalami kenaikan sebesar 60 poin menjadi 3,854 ringgit per metrik ton, dengan penguatan sekitar 4,73%. Kenaikan ini didukung oleh harga minyak saingannya dan menurunnya produksi kelapa sawit.

Menurut data dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB), persediaan minyak sawit pada akhir Desember 2023 menurun 4,64%, produksi turun 13,31%, dan ekspor menurun 5,12%. Pada Jumat (12/1), sebuah badan perdagangan terkemuka menyatakan bahwa impor minyak sawit India melonjak ke level tertinggi dalam empat bulan pada Desember 2023, didorong oleh meningkatnya pembelian minyak sawit olahan karena harga yang kompetitif.

Harga minyak mentah pada Jumat (12/1) juga mengalami kenaikan lebih dari 2%, dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Inggris pada target-target militer Houthi di Yaman. Para pejabat industri pada Kamis (11/1) menyatakan bahwa produksi minyak sawit Malaysia diperkirakan akan meningkat pada 2024 seiring dengan berkurangnya tenaga kerja, meskipun tetap ada tantangan dari kepatuhan petani terhadap regulasi Uni Eropa dan AS yang berkaitan dengan deforestasi dan tenaga kerja paksa.

Kontrak minyak kedelai teraktif Dalian turun 0,29%, sementara kontrak minyak sawit meningkat 1,44%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 1,46%. Seorang eksekutif dari konsultan Glenauk Economics memperkirakan bahwa harga minyak sawit dapat meningkat hingga 4.000 ringgit per metrik ton pada kuartal III/2024. Meskipun mata uang Ringgit Malaysia ditutup melemah -0,08% terhadap dolar AS, hal ini membuat minyak kelapa sawit lebih menarik bagi pemegang mata uang asing.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.