Warga Blitar Sambut Musim Hujan dengan Buru Kepompong Ulat Jati, Harganya Tembus Ratusan Ribu

oleh -0 Dilihat
oleh
banner 468x60

Blitar – Musim hujan tidak hanya membawa guyuran air, tetapi juga membuka peluang menarik bagi sejumlah warga di Blitar. Sejumlah warga di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, melakukan kegiatan yang unik dan menarik, yaitu berburu kepompong ulat jati di Hutan Jati Lodoyo, Kecamatan Sutojayan.

Hari Selasa (16/1), puluhan warga rela menyambut musim hujan dengan berjongkok berjam-jam untuk mengumpulkan kepompong yang tersembunyi di balik daun kering pohon jati yang telah jatuh di tanah. Salah satu warga yang terlibat aktif dalam kegiatan ini adalah Supiah (42), warga Desa Kaligrenjeng, Kecamatan Wonotirto.

banner 336x280

Supiah bersama beberapa tetangganya menempuh perjalanan sejauh 18 kilometer dari rumahnya untuk mencari kepompong di Hutan Jati Lodoyo. Mereka menggunakan sepeda motor dan berangkat sejak pukul 08.00 WIB.

“Tadi sampai sini (Hutan Jati Lodoyo) sekitar pukul 08.00 WIB. Berangkat rombongan naik sepeda motor. Dari Wonotirto ada 25 orang yang berangkat cari kepompong di sini,” ungkap Supiah.

Ibu dua anak ini, bersama tetangganya, telah aktif mencari kepompong selama tiga hari terakhir. Walaupun hasilnya tidak selalu pasti, mereka mencari kepompong mulai pukul 08.00 WIB hingga menjelang sore pukul 14.00 WIB.

“Dapatnya tidak tentu, setengah hari kadang dapat tujuh ons sampai satu kilogram,” ujar Supiah.

Kegiatan ini bukan tanpa hasil, karena harga kepompong ulat jati mencapai Rp 100.000 hingga Rp 125.000 per kilogram. Harga tersebut setara dengan harga daging sapi.

“Kalau dijual harga satu kilogram kepompong ulat jati mencapai Rp 100.000 sampai Rp 125.000. Tapi carinya harus telaten, harus jongkok membuka-buka daun jati yang jatuh di tanah,” tambahnya.

Warga Blitar ini tidak hanya mengejar hasil ekonomis, tetapi juga menjaga tradisi mereka. Kegiatan ini menjadi rutin setiap kali memasuki musim hujan. Pesanan untuk kepompong ulat jati juga sudah ada sejak awal musim hujan, dimana pembeli mengolahnya sebagai lauk makan.

Misidi (60), warga Wonotirto, juga ikut serta dalam kegiatan ini, meninggalkan sementara pekerjaan sebagai buruh tani untuk mencari kepompong di Hutan Jati Lodoyo. Dalam waktu satu hari, ia bisa mendapatkan satu kilogram kepompong.

“Kalau dijual, harga kepompong ulat jati lebih Rp 100.000 per kilogramnya. Biasanya, kepompong ulat jati dimasak oseng atau digoreng untuk lauk makan,” kata Misidi.

Namun, momen mencari kepompong tidak berlangsung lama. Dalam waktu seminggu, kondisi kepompong ulat jati sudah habis.

“Sekarang, warga Wonotirto mencari kepompong ulat jati di Lodoyo. Karena hutan jati di wilayah Wonotirto, sekarang sudah ganti tanaman tebu,” jelasnya.

Wiwik (39), warga Desa Bumiayu, Kecamatan Panggungrejo, juga mengambil bagian dalam kegiatan ini dengan menempuh jarak sekitar 20 kilometer dari rumahnya untuk mencari kepompong di Hutan Jati Lodoyo.

“Saya sudah dua hari ini cari kepompong di sini (Hutan Jati Lodoyo). Kemarin hanya dapat setengah kilogram. Kepompongnya sudah saya jual, sudah ada yang pesan. Harga per kilonya lebih Rp 100.000,” ungkap Wiwik.

Inilah sebuah cerita unik dari Blitar, di mana warganya menghadapi musim hujan dengan kegiatan yang tidak hanya menghasilkan penghasilan tambahan tetapi juga merawat tradisi lokal mereka.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.