Cakupan Sub-PIN Polio Menunjukkan Ketidakmerataan, Pemerintah Fokus Maksimalkan Imunisasi

oleh -0 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta – Meskipun pelaksanaan Sub-Pekan Imunisasi Nasional Polio putaran pertama di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, berhasil mencapai target, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa cakupan tersebut tidak merata di seluruh wilayah. Sebanyak 13 wilayah masih berada di bawah target yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Pemerintah sebelumnya menargetkan cakupan Sub-Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio minimal 95 persen untuk membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). Data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa setidaknya ada 13 wilayah yang belum mencapai target, seperti Temanggung (86,3 persen), Kota Pekalongan (87,3 persen), Jepara (87,7 persen), Sampang (88,2 persen), dan Pamekasan (89,2 persen).

banner 336x280

Menanggapi hal ini, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, menyampaikan bahwa cakupan capaian Sub-PIN Polio pada putaran pertama secara keseluruhan telah mencapai 98,3 persen. Rinciannya, Jawa Timur sebesar 97,1 persen, Jawa Tengah sebesar 99,8 persen, dan Kabupaten Sleman, DIY, sebesar 99,4 persen.

“Putaran pertama Sub-PIN Polio ini dilaksanakan dalam satu pekan. Kemudian, akan dilanjutkan satu minggu lagi untuk sweeping. Jadi, semua kabupaten/kota melakukan sweeping sekaligus mengejar anak-anak atau sasaran yang belum mendapatkan imunisasi,” ujarnya.

Pelaksanaan Sub-PIN Polio saat ini dilakukan sebagai respons terhadap Kejadian Luar Biasa Polio di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kabupaten Sleman, DIY, ikut dilibatkan karena berbatasan langsung dengan dua provinsi tersebut, sehingga meningkatkan risiko penularan polio.

Prima menjelaskan bahwa waktu satu pekan untuk sweeping dimaksudkan untuk menjangkau sasaran yang belum diimunisasi. Program imunisasi dalam Sub-PIN Polio menyasar seluruh anak usia 0-7 tahun, tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.

Namun, beberapa tantangan masih dihadapi dalam pelaksanaan Sub-PIN Polio, terutama di daerah yang belum mencapai target. Tantangan tersebut termasuk pelaksanaan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat yang masih kurang optimal mengenai pentingnya Sub-PIN Polio. Peran serta lintas sektor, terutama pemuka agama dan masyarakat, juga perlu ditingkatkan.

Perlindungan Melalui Imunisasi dan Perilaku Hidup Bersih

Secara terpisah, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi menekankan peran penting tokoh masyarakat, khususnya tokoh adat dan tokoh agama, dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan imunisasi di masyarakat. Terdapat kekhawatiran di kalangan masyarakat terhadap pemberian imunisasi, meskipun vaksin yang digunakan sudah terbukti aman dan bermanfaat.

“Imunisasi ini tujuannya bukan untuk keberhasilan program, melainkan tujuan utamanya adalah untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang berbahaya,” katanya.

Gunardi menegaskan bahwa imunisasi dapat melindungi anak-anak di suatu wilayah dari penularan penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Meskipun demikian, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat perlu diperkuat untuk meningkatkan perlindungan tersebut.

“Pola hidup yang bersih dan sehat juga tidak kalah penting untuk mencegah penularan penyakit, termasuk polio. Pastikan pula cakupan imunisasi bisa merata sebab jika masih ada wilayah yang cakupannya rendah, itu bisa menjadi sumber penularan penyakit,” ujar Gunardi.

Peran masyarakat dan tokoh masyarakat sangat krusial dalam menjaga keberhasilan program imunisasi dan melindungi anak-anak dari risiko polio. Agar mencapai kekebalan komunitas yang optimal, masyarakat diharapkan memahami pentingnya imunisasi, sehingga pemerintah dapat terus meningkatkan upaya sosialisasi dan edukasi.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.