,

Angin Kencang Rancaekek: Fenomena Tornado Pertama di Indonesia Menurut Pakar BRIN

oleh -3 Dilihat
oleh
banner 468x60

Keludnews.com – Rancaekek, Indonesia. Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggemparkan dunia dengan menyatakan bahwa fenomena angin kencang yang melanda Rancaekek, Sumedang-Bandung, baru-baru ini bisa dikategorikan sebagai tornado pertama di Indonesia.

Erma Yulihastin, pakar klimatologi BRIN, menggugah kesadaran masyarakat melalui cuitannya di Twitter, Rabu lalu (21/1), dengan pertanyaan, “Jadi bagaimana, kalian sudah percaya sekarang kalau badai tornado bisa terjadi di Indonesia? KAMAJAYA sudah memprediksi ‘extreme event’ 21 Februari 2023.”

banner 336x280

Menurutnya, kronologi foto-foto dan video yang dikumpulkan dari masyarakat dan media telah membantu para peneliti dalam mendokumentasikan kejadian luar biasa ini yang dicatat sebagai tornado pertama di Indonesia.

BRIN segera mengambil langkah tindak lanjut dengan merencanakan rekonstruksi dan investigasi terhadap kejadian angin kencang di Rancaekek pada hari yang sama. Erma menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat dalam mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan untuk penelitian lebih lanjut.

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat menunjukkan bahwa dua kejadian angin puting beliung terjadi di Sumedang-Bandung. Pertama, di Kecamatan Jatinagor, Sumedang, sekitar jam 16.00 WIB, dan kedua, di Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, pada sore hari.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar melaporkan bahwa angin puting beliung tersebut berdampak signifikan terhadap warga di beberapa daerah, termasuk Jatinangor, Rancaekek, dan Cicalengka.

Erma juga membandingkan durasi kejadian ini dengan kejadian puting beliung biasa di Indonesia. “Selain itu juga durasi. Dalam kasus puting beliung yang biasa terjadi di Indonesia, hanya sekitar 5-10 menit itu pun sudah sangat lama,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Erma belum dapat menyediakan data secara spesifik mengenai kecepatan angin dan diameter serta pemicu pasti dari tornado tersebut. Namun, BRIN berjanji untuk segera melakukan investigasi lebih lanjut.

BMKG Jabar memberikan analisis sementara terkait fenomena ini. Mereka menyoroti tiga penyebab utama, termasuk suhu muka laut yang hangat di sekitar wilayah Indonesia, keberadaan sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Pulau Sumatra, dan indeks labilitas yang tinggi di sebagian wilayah Jawa Barat.

BMKG menjelaskan perbedaan antara tornado dan puting beliung, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kedua fenomena tersebut.

Sebagai referensi, BMKG menjelaskan bahwa kekuatan tornado dapat diukur dengan Skala Fujita, yang mengkategorikan tingkat keparahan berdasarkan kecepatan angin dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.

Pakar klimatologi dan peneliti di BRIN berkomitmen untuk terus mempelajari dan memahami fenomena cuaca ekstrem seperti ini demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.