Sritex, Mantan Raja Seragam Militer, Kini Terhempas oleh Gelombang Hutang

oleh -1 Dilihat
oleh
banner 468x60

Keludnews.com – PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), yang sebelumnya diakui sebagai “Dewa” dalam dunia seragam militer dan produsen rompi anti peluru, kini terperangkap dalam badai hutang yang mengancam keberlangsungan usahanya.

Sritex, perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara yang berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah, telah menunjukkan keunggulannya dalam memproduksi kain dan pakaian berkualitas tinggi yang diakui secara internasional. Namun, popularitasnya yang dahulu cemerlang dalam industri militer dan fashion kini terguncang oleh beban hutang yang menumpuk.

banner 336x280

Dahulu, Sritex menjadi pilihan utama dalam pembuatan seragam militer untuk sejumlah negara anggota NATO, termasuk Amerika, Rusia, Jerman, dan lainnya. Produk-produknya yang berkualitas tinggi bahkan diperhitungkan untuk keperluan militer yang spesifik, seperti seragam anti air, anti api, dan bahkan anti nyamuk.

Namun, geliat bisnisnya terhenti akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Pada tahun 2021, Sritex mencatatkan rugi bersih hingga Rp1,08 miliar atau Rp16,76 triliun, sebuah kontras tajam dengan pertumbuhan laba yang mencapai 18,5% per tahun dalam sepuluh tahun sebelumnya.

Kini, perusahaan tersebut terperangkap dalam jeratan hutang yang terus membengkak. Laporan keuangan terakhir yang dilaporkan pada September 2022 mencatatkan total liabilitas mencapai US$1,55 miliar atau setara dengan Rp24,16 triliun, dengan sebagian besar terdiri dari utang-utang berbunga seperti utang bank dan obligasi.

Dengan perdagangan saham yang telah dihentikan sejak 18 Mei 2021 dan berpotensi terhapus dari daftar saham bursa, serta kondisi keuangan yang semakin merosot, Sritex harus menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan eksistensinya di pasar.

“Perusahaan ini menghadapi tekanan besar dari beban hutang yang terus meningkat, sementara pendapatan terus tergerus oleh bunga yang harus dibayar,” kata seorang analis keuangan yang enggan disebutkan namanya.

Sritex, yang dahulu dianggap sebagai ikon dalam industri tekstil dan militer, kini harus mencari solusi untuk mengatasi krisis keuangan yang mengancam kelangsungan usahanya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.