,

Freeport Diperpanjang hingga 2061: Pertambangan Tanah Papua Berlanjut Lebih Lama

oleh -0 Dilihat
oleh
banner 468x60

Keludnews.com – Pertambangan emas dan tembaga di Papua oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) akan berlanjut hingga tahun 2061 setelah pemerintah hampir menyelesaikan perpanjangan kontrak. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, yang menyatakan bahwa proses perpanjangan kontrak hampir mencapai tahap final.

“Prosesnya sudah hampir final, tinggal menunggu revisi Peraturan Pemerintah (PP),” ungkap Bahlil di Jakarta pada Senin (29/4/2024).

banner 336x280

Pemerintah Indonesia telah berhasil memperoleh 51% saham dalam PT Freeport Indonesia, yang merupakan bagian dari alasan di balik perpanjangan kontrak ini. Bahlil menjelaskan bahwa puncak produksi Freeport diperkirakan akan terjadi pada tahun 2035, dengan fokus pada pengelolaan tambang bawah tanah.

“Mengelola tambang secara bawah tanah menjadi prioritas, dengan puncak produksi diperkirakan pada tahun 2035,” jelasnya.

Namun, Bahlil juga menyoroti pentingnya eksplorasi yang berkelanjutan setelah tahun 2035 untuk menjaga kelangsungan produksi. Dia menegaskan bahwa eksplorasi di tambang bawah tanah membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 10-15 tahun.

“Jika eksplorasi tidak dilakukan, produksi bisa habis. Butuh waktu 10-15 tahun untuk eksplorasi di bawah tanah,” tambahnya.

Pemerintah juga menegaskan bahwa perpanjangan kontrak ini tidaklah menjadi masalah, mengingat mayoritas saham Freeport telah menjadi milik Indonesia. Selain itu, terdapat opsi untuk menambah saham sebanyak 10%.

Selain itu, kontrak Freeport sebenarnya baru akan berakhir pada tahun 2041, tetapi dengan perpanjangan kontrak sekarang, Freeport akan diberi tambahan waktu 20 tahun hingga tahun 2061.

“Sudah ada opsi penambahan saham 10% dengan harga yang sangat murah,” ungkap Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil juga mengumumkan bahwa smelter Freeport di Gresik direncanakan akan mulai beroperasi pada Mei atau Juni 2024. Freeport telah menginvestasikan modal sebesar US$ 3,1 miliar atau sekitar Rp 48 triliun untuk proyek ini.

“Setelah ada smelter ini, konsentrat bisa diolah di Indonesia. Ini mencakup berbagai turunan, seperti emas, lithium, hingga katoda,” jelasnya.

Dengan adanya smelter ini, diharapkan Indonesia dapat mengolah konsentrat tambang menjadi produk jadi, meningkatkan nilai tambah dan kesempatan kerja di dalam negeri.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.